Aku sudah dua tahun tidak minum saat memesan tiket ke Bali. Aku juga ketakutan.
Bukan karena perjalanannya. Tapi karena kemudahannya — meja-meja panjang restoran di Seminyak, bar-bar sunset, cara setiap acara sosial tampaknya melibatkan sesuatu yang dingin dan beralkohol. Aku sudah mendengar dari orang-orang di kelompok AA-ku di Sydney bahwa Asia Tenggara itu berat. Aku hampir meyakinkan diri bahwa aku akan kambuh.
Aku menemukan pertemuan Sanur melalui situs web AA. Senin pagi, pukul 9. Aku masuk lebih awal dan duduk dekat pintu — kebiasaan lama, dekat dengan jalan keluar. Seorang pria bernama Ketut membawakan segelas air tanpa diminta. Seseorang telah mencetak bacaan di kertas merah muda tipis.
Mereka membuka dengan doa ketenangan. Aku hafal setiap kata. Aku pernah mengucapkan kata-kata itu di aula berdebu di Newtown, di ruangan di atas pub di Surry Hills, di dapur teman tengah malam. Aksennya berbeda, wajah-wajahnya berbeda, udara berbau dupa dan kamboja bukan hujan — tapi ruangannya sama.
Seharusnya aku pergi dari Bali setelah dua minggu. Aku memesan ulang penerbanganku sekali, lalu sekali lagi. Kemudian aku menghubungi atasanku dan meminta untuk bekerja jarak jauh selama enam minggu.
Yang kutemukan di sini bukan sekadar pertemuan. Melainkan keberanian khusus dari sebuah persaudaraan yang ada di negara di mana masalah ini jarang dibicarakan terang-terangan. Orang-orang di ruangan itu telah memilih kejujuran dalam budaya di mana menjaga muka sangat penting. Keberanian itu terasa menular.
Kini aku sudah kembali ke Sydney. Tapi ketika orang bertanya apa yang kulakukan saat liburan di Bali, aku menjawab dengan jujur: aku menemukan ruangan yang selalu kutemukan, duduk di dalamnya, dan mengingat kembali siapa diriku.
Siap mengambil langkah pertama?
Telepon saluran bantuan atau datang ke pertemuan mana saja. Gratis, anonim, tanpa komitmen.